Lapisan Es di Greenland Ternyata Lebih Rentan

SEBUAH studi yang disiarkan Senin (13/3) menemukan lapisan es di Greenland (Tanah Hijau) kini diketahui lebih sensetif walaupun cukup kecil — namun dalam jangka sangat panjang — kenaikan suhu udara akan mencairkan lapisan tersebut sama sekali.

Riset terdahulu mengisyaratkan, dibutuhkan pemasan setidaknya 3,1 derajat Celsius di atas level pra industri, dalam kisaran 1,9 -5,1 derajat Celsiu hingga sepenuhnya mencairkan lapisan itu.

Namun beberapa estimasi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change, menyebutkan ambang itu sebesar 1,6 derajat Celsius, dalam kisaran 0,8-3,2 derajat C, walaupun ini berkelan jutan selama puluhan ribu tahun.

Greenland merupakan sumber air terkurung di darat terbesar kedua setelah Antartika. Jika lapisan es itu sampai mencair total maka level air laut akan melonjak setinggi 7,2 meter, sehingga akan meredam delta-delta dan pulau-pulau yang terletak rendah.

Jika pemanasan global terbatas 2 C, suatu target yang ditetapkan dalam negosiasi perubahan iklim PBB, pencairan total akan terjadi pada skala 50.000 tahun, ungkap studi tadi.

Namun emisi karbon dewasa ini menempatkan pemasan jauh di luar sasaran ini. Jika emisi-emisi itu dibiarkan begitu saja maka seperlima dari lapisan es tersebut akan mencair dalam 500 tahun dan semuanya akan hilang dalam kurun waktu 2.000 tahun.

Penelitian itu dilakukan oleh ilmuwan dari Postdam Institute for Climate Impact Research (PIK) dan Universidad Complutense de Madrid.

Mereka mengatakan, risiko kehilangan total boleh jadi terkesan kecil kemungkinannya, mengingatkan sangat lamanya skala waktu tersebut.

Namun para pakar tadi juga memperingatkan bahwa temuan-temuan mereka menolak banyak asumsi tentang stabilitas lapisan es itu dalam responnya terhadap pemanasan jangka panjang.

Memanas

Asmosfer bumi telah memanas sebesar 0,8 derajat Celsius sejak dimulainya Revolusi Industri pada pertengahan abad ke-18, dan karbon dioksida (C02) yang kini dilepaskan ke udara akan bertahan selama beberaa abad ke depan.

Lapisan es itu rentah terhadap semacam siklus kejam, yang juga dikenal sebagai feedback positif, yang memacu pencairan, ungkap hasil studi tersebut.

Mencapai ketebalan lebih 3.000 meter di beberapa tempat, lapisan itu dewasa ini mendapat pertolongan dari efek pelindung dari tempat yang lebih tinggi lagi lebih dingin.

Namun bila lapisan itu sampai mencair, permukaan turun ke ketinggian yang lebih rendah yang memiliki temperatur lebih tinggi, dan hal itu mempercepat pendinginan, ungkap model komputer.

Selain ini, beberapa bagian daratan yang jadi terekspos oleh es menyerap radiasi sinar matahari karena tempat-tempat tadi lebih gelap dan tidak memantulkan cahaya. Ketika tempat-tempat itu memanas maka pada gilirannya membantu mencairkan es di sekitarnya.

“Studi kami menunjukkan bahwa di bawah kondisi tertentu pencairan lapisan es Greenland menjadi tak terhindarkan. Ini mendukung pendapat bahwa lapisan es tersebut merupakan elemen permukaan pada sistem Bumi,” papar periset PIK Andrey Ganopolski.

“Jika temperatur glolbal secara signifikan melampaui ambang batas maka es akan terus mencair dan tidak tumbuh lagi — bahkan sekalipun iklim itu akan mengalami tersebut, setelah ribuan tahun, kembali ke keadaannya semasa pra industri.” (afp/bh)