Thursday, March 15, 2012

Tampaknya perubahan iklim sudah mulai dirasakan dampaknya oleh satu negara yang terletak di tengah samudera pasifik.

Bagi negara-negara di belahan bumi lainnya, mungkin perubahan iklim belum menampakkan dampak yang luar biasa, tetapi bagi warga negara Kiribati, mereka tengah menghadapi masa seperti yang ada dalam film Water World.

Seperti yang dikutip dari Sidney Morning Herald Australia, 103.000 jiwa penduduk di negara itu terancam kehilangan tempat tinggal atau lebih tepatnya tenggelamnya pulau yang menjadi negara mereka.

Presiden Kiribati, Anote Tong, berencana membeli 3.000 hektar daratan di kepulauan Fiji, Viti Levu, yang terletak sejauh 2.250 kiometer dari Kiribati. Menurutnya daratan itu dijual oleh sebuah kelompok gereja seharga 9,6 juta US dolar.

Kenaikan permukaan air laut yang terjadi dan mulai menggerus bibir pantai serta mengakibatkan pindahnya desa-desa di dekat pantai Kiribati merupakan salah satu dampak yang sudah diperkirakan oleh para ilmuwan. Menurut mereka setiap tahun air laut akan mengalami kenaikan setinggi 2 milimeter dan diperkirakan laju kenaikan permukaan air laut ini semakin dipercepat akibat perubahan iklim.

Saat ini Kiribati tengah menunggu tanggapan dari pihak Fiji. Pemerintah Fiji melalui beberapa lembaga yang dimilikinya tengah melakukan kajian-kajian terkait dengan rencana pembelian daratan tersebut. Hasilnya akan diinformasikan kepada pemerintah Kiribati.

Dengan fakta ini terlihat nyata bahwa perubahan iklim saat ini terjadi. Dampaknya memang tidak langsung terasa oleh generasi saat ini, tetapi bagi generasi masa depan, menghadapi dampak perubahan iklim adalah tantangan terbesar untuk bertahan hidup.