Lingkungan – Minggu, 12 Feb 2012 00:30 WIB

Oleh: Harmen Azmi. Pernah mendengar sayuran organik, atau bahkan mengkonsumsinya? Pasti pernah mendengar namun belum pernah mengkonsumsinya.
Memang sayuran organik belum menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk dikonsumsi. Selain harganya lebih mahal dari sayuran hasil pertanian konvensional, jenis inipun tidak mudah ditemukan, khususnya di pasar tradisional.

Sayuran organik yang berasal dari pertanian organik, selain lebih sehat dikonsumsi ternyata juga jauh lebih ramah terhadap lingkungan. Para pakar mengatakan pertanian organik merupakan cara baru untuk mengurangi gas rumah kaca yang punya andil besar dalam pemanasan global.

Pertanian organik adalah jenis pertanian yang tidak menggunakan pupuk kimia untuk kesuburan tanah, tanaman maupun membasmi hama penyerang tanaman. Mereka hanya menggunakan pupuk kompos yang berasal dari pembusukan dedaunan maupun kotoran hewan yang telah diolah menjadi pupuk. Dengan kata lain pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia.

Telah sejak lama penggunaan pestisida kimia dalam pertanian ditengarai turut berperan besar dalam merusak lingkungan hidup seperti tercemarnya sungai bahkan danau. Namun mungkin tidak banyak yang mengerti bagaimana caranya penggunaan pestisida pada lahan pertanian turut merusak sungai dan danau. Caranya adalah, residu pestisida akan mengalir ke sungai bersama air hujan, dan aliran sungai pada akhirnya akan bermuara pada danau atau laut. Residu pestisida akan mencemari air dan merusak ekosistem dalam perairan tersebut.

Para ahli telah berupaya untuk menggantikan pestisida kimia (sintetik) dengan bahan yang ramah dengan lingkungan. Salah satunya adalah dengan cara mengembangkan pestisida organik. Pestisida tersebut terutama untuk mengatasi masalah hama dan penyakit tumbuhan pada tanaman sayuran, buah dan tanaman pangan lainnya.

Pertanian di daerah tropis sangat memungkinkan untuk mengembangkan pestisida organik, karena melimpahnya aneka tumbuhan pada daerah tropis. Yang dikatakan pestisida organik meliputi pestisida biologi dan pestisida nabati. Pestisida biologi ini bahan aktifnya berupa mikrobia yang digunakan untuk pengendalian hayati. Misalnya Bacillus thuringiensis yang mampu mengendalikan hama jenis ulat. Tricoderma koninggi untuk mengendalikan jamur akar karet dan layu pada cabe.

Pestisida nabati sekarang banyak dikembangkan, yaitu pestisida yang dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan atau produk tumbuhannya. Banyak tanaman yang mempunyai potensi sebagai pestisida nabati baik dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya bahkan buangan (limbah) dari produk yang telah diproses, misalnya limbah pabrik rokok dan jamu. Para peneliti telah banyak menguji tentang efektifitasnya antara lain daun kecubung, daun mimbo, daun serai, daun secang, umbi bawang putih, rimpang lempuyang gajah dan emprit dan sebagainya.

Bumi yang kita tempati sekarang ini semakin mengkhawatirkan keadaannya. Ozon semakin menipis dan berlubang.

Semua itu ulah para penghuni bumi ini. Jika hal sekecil apapun sangat bermanfaat untuk menekan pemanasan global, mari kita dukung dan kita laksanakan.

Salah satunya adalah dengan menerapkan pertanian organik dan lebih memilih mengkonsumsi hasil pertanian organik daripada pertanian konvensional.

Selain untuk kesehatan, hal tersebut pun bermanfaat untuk kelestarian bumi yang kelak akan kita wariskan kepada anak cucu.