Lingkungan – Minggu, 12 Feb 2012 00:31 WIB

Mengelola Sampah Pangan Rumah Tangga Secara Praktis sebagai Kompos
Oleh: Budiman rakasidih. Sampah rumah tangga banyak jenisnya. Ada sampah plastik, kertas sampah pangan dan lain-lain. Sampah pangan yang dimaksud di sini adalah sampah yang berasal dari pengolahan makanan seperti sisa sayuran yang tidak bisa dimakan, kulit wortel, kulit ari ayam sampai ke segala macam buah dan sayur yang untuk memakannya mesti dikupas dulu kulitnya semisal apel atau ubi. Nah, yang akan kita bicarakan di sini adalah pengelolaan sampah rumah tangga secara praktis.

Disadari atau tidak, sampah pangan inilah yang kerap menimbulkan bau tak sedap. Kalau sampah plastik atau sampah kertas dibiarkan setahun pun tidak akan menimbulkan bau tak sedap atau mengundang kehadiran aneka mikroorganisme. Berbeda halnya dengan limbah pangan, cobalah perhatikan, dua hari saja kita biarkan sup kaldu di atas meja, sudah timbul gelembung atau buih berwarna putih, belum lagi baunya bila kita hirup. Sudah tak sedap. Itu baru dua hari kita biarkan, nah bagaimana jika kita biarkan berminggu atau berbulan-bulan? Tentu saja akan muncul ulat dan teman-teman sebangsanya.

Profesor Koji Takakura dari JPEC Jepang di sela-sela seminar ” Teknososial Pengelolaan Sampah Rumah Tangga” mengajari para mahasiswa tentang teknologi pengelolaan sampah. Prof Takakura merupakan pakar sampah dari Jepang.

Sang pakar sampah mengajarkan pengelolaan sampah rumah tangga dengan memasukkan sampah basah ke dalam keranjang sampah yang diisi sekam dan pupuk sehingga menjadi kompos secara otomatis. Menurut dia, cara praktis mengelola sampah rumah tangga itu merupakan alternatif yang mudah terutama karena jumlah sampah organik sekitar 70 persen.

Prof. Takakura mengatakan bahwa praktek pengelolaan sampah seperti itu telah dilaksanakan di dua kelurahan yakni RW XIV kelurahan Kalirungkut, kecamatan Rungkut, dan RW IV kelurahan Tenggilis Mejoyo, kecamatan Tenggilis Mejoyo, Jawa Timur. Kegiatan ini bahkan didukung oleh staf ahli kementerian lingkungan hidup JICA, Tetshuro Fujitsuka dan staf ahli lingkungan hidup dari pemerintahan kota Kitakyushu, Emiko Murakami. Yah, praktek pengelolaan sampah di dua kelurahan ini memang merupakan proyek kerjasama antara pemkota Kitakyushu dengan pemkot Surabaya.

Pertama-tama, kita perlu memisahkan antara sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik maksudnya adalah sampah pangan, sampah yang bisa membusuk. Sedangkan sampah non organik adalah sampah yang tidak bisa membusuk semisal kertas dan plastik. Di negara-negara maju sudah ada tong sampah khusus yang memisahkan antara sampah organik dan non organik. Setelah dipisahkan, barulah sampah organik ini kita olah.

Kebanyakan sampah organik atau sampah pangan diolah menjadi pupuk kompos. Cara pengolahan sampah organik menjadi kompos tergolong mudah. Untuk menjadikan sampah pangan menjadi pupuk cair, pertama-tama kita masukkan ke dalam botok semua sisa kupasan sayur terus kita masukkan air gula dan setelah itu kita tutup botolnya dan simpan selama beberapa hari. Tak lama jadilah pupuk cair. Bakteri dan mikroorganisme menyukai media yang manis sehingga air gulalah yang dipakai. Dengan adanya air gula maka bakteri dan mikroorganisme bisa hidup.

Sedangkan cara pengolahan pupuk padat tergolong susah-susah gampang, diperlukan takaran dan feeling yang pas saat mengolah. Sampah-sampah pangan kita masukkan ke sebuah wadah, untuk mudah menjadikannya sebagai kompos, ambillah kompos yang sudah matang dan taburkan saja di atas sampah pangan. Kemudian tutuplah dengan baik, sampah pangan yang sudah kita taburi dengan kompos yang sudah matang itu. Bila wadah yang kita tutup terasa panas berarti mikroorganisme dan bakteri sedang melakukan pekerjaan mereka, yaitu mengurai sampah menjadi kompos.

Memang sih ada cara lain dalam mengolah sampah pangan menjadi kompos, namun kalau ada cara yang paling mudah, untuk apa menguraikan hal rumit.

Pembuatan kompos dapat dijadikan jalan keluar dalam mengelola limbah. Seiring dengan berjalannya waktu, sampah yang dihasilkan manusia akan terus bertambah dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia tersebut. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, bahkan sampah telah menjadi masalah serius di perkotaan. Semakin hari sampah di daerah perkotaan semakin banyak, tak mustahil bila di kemudian hari akan semakin sulit bagi kita untuk membuang sampah. Kompos berfungsi untuk meminimalisasi efek negatif yang ditimbulkan sampah dengan membuatnya menjadi lebih bermanfaat secara ekologis maupun finansial.

Pemanfaatan sampah organik dapat dijadikan jalan keluar dalam mencegah timbulnya kembali tumpukan sampah seberat ribuan ton yang telah menyebabkan longsor dan korban jiwa. Jika saja sebelumnya sampah tersebut dapat diolah menjadi kompos, maka musibah longsor dan korban jiwa dapat dihindarkan.

Prinsip pengomposan

Christopher J. Starbuck, seorang ahli holtikultura dari University of Missouri menjelaskan, kompos merupakan bahan organik yang telah membusuk beberapa bagian sehingga berwarna gelap, mudah hancur, dan memiliki aroma seperti tanah. Kompos dibuat melalui proses biologi, yaitu seperti penguraian pada jaringan tumbuhan oleh organisme yang ada dalam tanah . Ketika proses pembusukan selesai, kompos akan berwarna coklat kehitaman dan menjadi material bubuk bernama humus.

Dalam kondisi alami, hewan dan tumbuhan akan mati di atas tanah. Makhluk hidup yang telah mati tersebut akan diuraikan bakteri pembusuk, kemudian membentuk suatu material yang dapat menghidupkan dan menyuburkan tanaman. Proses yang terjadi dalam pembuatan kompos ini tidak jauh berbeda dengan proses pada penguraian tersebut. Oleh karena itu, pembuatan kompos dianggap sebagai seni dalam merubah kematian menjadi kehidupan (the art of turning death into life).

National Organic Gardening Centre yang berada di Kota Coventry, Inggris dalam publikasinya menjelaskan, pembuatan kompos pada dasarnya adalah membuat suatu kondisi yang mendukung (favourable condition) bagi pertumbuhan populasi mikroorganisme dalam proses pembusukan untuk membuat material humus yang sangat penting bagi tanah. Pembusukan dalam pembuatan kompos akan lebih cepat dibandingkan dengan pembusukan yang terjadi pada proses alami.

Prinsip pembuatan kompos merupakan pencampuran bahan organik dengan mikroorganisme sebagai aktivator. Mikroorganisme tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti kotoran ternak (manure) atau bakteri inokulan (bakterial inoculant) berupa Effective Microorganisms (EM4), orgadec, dan stardec. Mikroorganisme tersebut berfungsi dalam menjaga keseimbangan karbon (C) dan nitrogen (N) yang merupakan faktor penentu keberhasilan pembuatan kompos.

Bahan yang diperlukan dalam pembuatan kompos adalah substansi organik. Bahan tersebut dapat berupa dedaunan, potongan-potongan rumput, sampah sisa sayuran, dan bahan lain yang berasal dari makhluk hidup. Kemudian, bahan-bahan tersebut harus memiliki rasio karbon dan nitrogen yang memenuhi syarat agar berlangsung pengomposan secara sempurna. Sampah organik dapat diubah menjadi kompos dengan suksesi berbagai macam organisme. Selama fase awal pengomposan, bakteri meningkat dengan cepat. Berikutnya, bakteri berfilamen (actinomycetes), jamur, dan protozoa mulai bekerja. Setelah sejumlah besar karbon (C) dalam kompos dimanfaatkan dan temperatur mulai turun, centipedes, milipedes, kutu, cacing tanah, dan organisme lainnya melanjutkan proses pengomposan.

Organisme yang bertugas dalam menghancurkan material organik membutuhkan nitrogen (N) dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu, dalam proses pengomposan perlu ditambahkan material yang mengandung nitrogen agar berlangsung proses pengomposan secara sempurna. Material tersebut salah satunya dapat diperoleh dari kotoran ternak (manure). Nitrogen akan bersatu dengan mikroba selama proses penghancuran material organik.

Setelah proses pembusukan selesai, nitrogen akan dilepaskan kembali sebagai salah satu komponen yang terkandung dalam kompos. Pada fase berikutnya, jamur (fungi) akan mencerna kembali substansi organik untuk cacing tanah dan actinomycetes agar mulai bekerja. Cacing tanah akan bertugas dalam mencampurkan substansi organik yang telah dicerna kembali oleh jamur dengan sejumlah kecil tanah lempung (clay) dan kalsium yang terkandung dalam tubuh cacing tanah. Selama proses tersebut, rantai karbon yang telah terpolimerisasi (polymerized) akan tersusun kembali pada pembentukan humus dengan menyerap berbagai kation seperti sodium, amonium, kalsium, dan magnesium. Dalam tahap ini, kompos sudah bisa digunakan sebagai pupuk pada tumbuhan penghasil jagung, labu, ketela, melon, dan kubis.

Pada fase terakhir, organisme mengoksidasi substansi nitrogen menjadi nitrat (nitrates) yang dibutuhkan akar tanaman dan tumbuhan bertunas (sprouting plants) seperti rebung dan tauge. Kompos akan berubah menjadi gelap, wangi, remah, dan mudah hancur. Fase ini disebut juga sebagai fase kematangan (ripeness) karena kompos sudah dapat digunakan.

Keberhasilan dalam pembuatan kompos sangat dipengaruhi beberapa faktor. Dalam proses pengomposan, harus dilakukan pengontrolan terhadap kelembaban, aerasi (tata udara), temperatur, dan derajat keasaman (pH). Kelembaban antara 50-60% merupakan angka yang cukup optimal pada pembuatan kompos. Pengomposan secara aerob membutuhkan udara, sehingga perlu dilakukan pembalikan (turning) pada kompos agar tercipta pergerakan udara. Temperatur akan naik pada tahap awal pengomposan, namun temperatur tersebut akan berangsur-angsur turun mencapai suhu kamar pada tahap akhir. Keasaman kompos akan meningkat, karena bahan yang dirombak menghasilkan asam-asam organik yang sederhana dan keasaman ini akan kembali normal ketika kompos telah matang.

(Penulis adalah mahasiswa ISTP, jurusan teknik geologi)