Lingkungan – Minggu, 29 Jan 2012 07:15 WIB

Oleh: Ir. Fadmin Prihatin Malau. Wajar manusia khawatir dan takut bumi (planet) ini akan hancur karena sampai hari ini belum ditemukan planet lain selain bumi yang dapat dihuni berbagai makhluk termasuk manusia yang hidup dan berkembangbiak di dalamnya. Sampai hari ini bumi merupakan satu-satunya tempat manusia yang bisa hidup aman dan nyaman, sehingga hingga kini manusia yang menghuni bumi mencapai tujuh milyar jiwa.

Belum ada manusia yang mampu pindah planet lain selain bumi, maka sangat wajar jika kita sangat khawatir atau takut bila bumi ini hancur.

Menjadi persoalan mengglobal, problem besar bagi manusia bagaimana agar bumi ini tidak hancur atau dengan kata lain tidak terjadi “kiamat” kecil di bumi ini. Problem besar ini hanya satu jawabannya, yakni peduli dengan lingkungan hidup di bumi. Peduli dengan lingkungan hidup di bumi terus dikampanyekan, diserukan agar bumi tidak rusak sehingga kita hidup aman dan nyaman.

Semua mengetahui ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup di bumi menimbulkan kehancuran sehingga terjadi “kiamat” kecil atau bencana alam.

Saat ini banyak orang berkampanye peduli lingkungan hutan dengan menjaga ekosistem alam, fauna dan flora, tetapi banyak pula aktivitas manusia yang belum atau tidak berwawasan lingkungan. Akibatnya hasil kampanye tersebut belum maksimal, karena hutan terus dibabat, sehingg sering terjadi bencana alam yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda.

Manusia memiliki hawa nafsu yang luar biasa agar dapat hidup senang. Hanya alasan butuh makan manusia mengeksploitasi alam. Semakin hari kompetisi hidup semakin ketat, timbul sipat serakah dan tidak ingin berbagi dengan sesama manusia. Sifat serakah, hawa nafsu untuk menguasai begitu besar, ego untuk menguasai begitu hebat. Ini membuat Iwan Fals menulis lagu yang sebagian liriknya adalah, “Jelas kami kecewa, mendengar gergaji tak pernah berhenti, demi kantong pribadi tak ingat rejeki generasi nanti”

Pada hal Allah telah mengingatkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi di bumi akibat ulah manusia. Kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban atas manusia yang telah merusak bumi, alam semesta.

Ketika manusia pertama (Nabi Adam) dan Siti Hawa diturunkan ke bumi, waktu itu mereka mendapatkan bumi dengan sumber daya alam yang berlimpah dan Allah memberi tanggungjawab kepada manusia untuk mengelola bumi ini. Sesungguhnya manusia itu adalah khalifah (pemimpin) di muka bumi ini.

Sifat ego, serakah, tamak dan ingin cepat kaya dengan berbagai cara, menyebabkan sumber yang daya alam sangat terbatas itu dieksploitasi tanpa mengelolanya secara baik dan benar. Bila aktivitas bisnis dijalani dengan baik dan benar, tentu alam akan lestari, tetapi bila dilakukan dengan cara yang tidak baik dan benar, maka bumi atau lingkungan hidup akan rusak, binasa.

Para aktivis pecinta lingkungan banyak menilai aktivitas bisnis pabrik CPO dan pabrik bubur kertas (Pulp) banyak dilakukan dengan cara yang tidak (kurang) baik dan benar, sehingga berakibat buruk bagi lingkungan hidup. Semua itu terjadi akibat persaingan bisnis semakin ketat dan para pebisnis menempuh jalan pintas dan menghalalkan segala cara.

Bila lingkungan hidup rusak maka pada dasarnya semua manusia yang ada di bumi akan dirugikan, yang diuntungkan adalah para pebisnis atau pengusaha.

Berwawasan Lingkungan

Kini bisnis katanya harus berwawasan lingkungan, bebas dari isu lingkungan dan mengedepankan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup, namun faktanya masih memprihatinkan. Saat ini sangat banyak bisnis atau perusahaan yang merusak lingkungan hidup. Kita tidak bisa hanya berteori, berjanji (berkomitmen), tetapi harus mewujudkannya dengan kerja nyata, bukankah janji itu hutang dan hutang harus dibayar. Tidak heran jika saat ini banyak pihak bertindak sebagai pengawas untuk mengawasi dan menilai apa sudah dilakukan komitmen perusahaan berwawasan lingkungan itu dengan baik dan benar.

Semua bentuk bisnis dihadapkan kepada lingkungan termasuk bisnis produsen minyak mentah kelapa sawit atau pabrik Crude Palm Oil (CPO) dan pabrik bubur kertas (pulp). Bisnis produsen minyak mentah kelapa sawit atau CPO kini banyak mendapat protes dan sorotan tajam secara terus-menerus dari berbagai pihak.

Memang produk Crude Palm Oil Indonesia kini telah masuk pasar soybean sampai 30 persen dari total produk minyak kelapa sawit nasional Indonesia, sehingga menembus pasar Asia Pasifik, China, India dan da lain-lain. Produk CPO Indonesia menjadi kompetitor di dunia. Sejalan dengan itu sorotan semakin tajam terhadap bisnis ini, karena dituding merusak lingkungan hidup.

Produk CPO Indonesia terus dipertanyakan apakah telah berwawasan lingkungan dalam semua aspek, dari produksi hulu (tidak merusak hutan, perkebunan kelapa sawit dikelola secara lestari dan berkelanjutan) sampai kepada produksi hilir. Hal yang sama juga berlaku pada produk bubur kertas (pulp) di Indonesia yang dituntut berbagai pihak harus ramah lingkungan hidup. Produk pulp Indonesia jangan merusak hutan alam Indonesia.

Ada hal yang sering dipertanyakan banyak orang kepada penulis yang pernah berkiprah di perusahaan industri pulp dan sebagai seorang aktivis lingkungan dari “Hijau Membangun” di Sumatera Utara. Pertanyaannya, apakah bisa perusahaan CPO dan Pulp tidak merusak lingkungan, terutama hutan alam Indonesia, dan limbah industrinya tidak mencemari lingkungan hidup.

Jawabnya bisa bila perusahaan CPO dan Pulp itu tidak mengganggu hutan alam. Perusahaan CPO tidak membangun perkebunan kelapa sawit dari areal hutan alam dan perusahaan pulp tidak membangun Hutan Tanaman Industri (HTI) dari hutan alam.

Pertanyaan berikutnya muncul, jika bukan dari areal hutan alam, jadi dari areal mana? Jawabnya, Indonesia memiliki puluhan juta hektar lahan kosong yang dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Hal ini bisa dilakukan, tetapi mengapa tidak dilakukan. Persoalannya biaya yang ditanggung perusahaan jauh lebih besar dan semakin besar biayanya untuk perusahaan industri pulp bila membangun HTI dari lahan kosong.

Bila hutan alam yang dijadikan HTI maka perusahaan industri pulp tidak perlu mengeluarkan banyak dana, sebab bahan baku pulp yakni kayu gelondongan dari hutan alam sudah tersedia dalam jumlah besar. Jika harus menanam tanaman di areal lahan kosong membutuhkan dana besar, waktu tanam sampai panen dan belum tentu berhasil tanaman yang ditanam itu tumbuh besar dan subur. Dalam ilmu pertanian menanam dahulu baru memanen, tetapi yang dilakukan memanen dahulu baru menanam.

Kita menanti realisasi dari apa yang dikatakan Menteri Kehutanan Republik Indonesia, tidak ada pilihan lain para pengusaha unit bisnis pulp di Indonesia harus berbisnis ramah lingkungan, tidak bisa tidak. Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan di harian Kompas, Jumat 31 Desember 2010 halaman 21 mengatakan, “Izin Hutan Tanaman Industri (HTI) saat ini sudah tidak bisa dari daerah. Untuk industri pulp, selama HTI belum jadi, jangan bikin pabik pulp dulu”.

Menteri Kehutanan RI dalam ekspose di harian Kompas itu, menjelaskan pada tahun 2010 luas lahan HTI mencapai 9,359 juta hektar dengan aturan penanaman 70 persennya, maka 6,551 juta hektar harus ditanami. Saat ini realisasi penanaman baru 4,7 juta hektar sehingga masih kurang 1,851 juta hektar. Investasi per hektar HTI sekitar Rp. 11 juta. Dengan demikian untuk membangun 400.000 hektar HTI dibutuhkan investasi Rp 4,4 triliun.

Indonesia, kata Menteri Kehutanan baru memiliki puluhan perusahaan penghasil Pulp dan pada tahun 2011 dalam proses penambahan tiga perusahaan penghasil Pulp di Indonesia dari Grup Djarum, Sumitomo dan Krindo. Namun, siapa pun pemilik perusahaan industri Pulp di Indonesia itu sebaiknya melaksanakan apa yang dikatakan Menteri Kehutanan RI agar dapat diwujudkan industri pulp berwawasan lingkungan. Tujuannya agar planet bumi ini tidak hancur, musnah.

(Penulis adalah sarjana pertanian, pengamat dan pemerhati masalah lingkungan)