Lingkungan – Minggu, 18 Des 2011 01:14 WIB

Oleh : Amirul Khair. Kebutuhan pembangunan sebagai konsekuensi program percepatan pengembangan daerah adalah kemutlakan. Untuk mempercepat pembangunan tersebut, pasti akan berdampak terhadap eksploitasi alam guna memenuhi kebutuhan pembangunan itu sendiri.

Sebagai contoh, untuk membangun fasilitas umum seperti, bandar udara, perumahan, pusat perbelanjaan, perkantoran pemerintah, gedung sekolah dan sebagainya pasti akan mengorbankan alam.

Pembangunan bakal bandar udara Internasional Kualanamu yang saat ini sedang diproses di Deliserdang misalnya, mega proyek ini membutuhkan jutaan kubik material pasir untuk penimbunan. Dari mana pihak perusahaan mendapatkan materialnya jika tidak mengeksploitasi alam – Jawabannya pasti dan tidak akan tidak.

Apapun teorinya, pembangunan fisik di negeri mana pun pasti akan mengorbankan alamnya guna memenuhi kebutuhan sebuah pembangunan.

Eksploitasi alam meski sebuah kemutlakan dan tidak mungkin dihindari, tentu tidak juga bisa dilakukan secara suka-suka. Dengan bahasa lain, jangan karena alasan atas nama pembangunan, wajah alam menjadi korban tanpa kajian. Kerusakan alam diakibatkan eksploitasi suka-suka tentu berdampak negatif terhadap keseimbangan hidup. Pastinya, yang pasti bakal menjadi korban adalah manusia itu sendiri.

Banjir dan longsor merupakan dua dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan akibat eksploitasi alam secara suka-suka yang mencapai ambang batas sehingga keseimbangan alam pun terganggu. Penebangan hutan demi ekspansi memenuhi target perluasan komoditi pertanian dan perkebunan pun tidak cerdas bila akhirnya hewan-hewan hutan kehilangan habitatnya.

Karena kehilangan habitat, satwa-satwa liar pun merambah kawasan permukiman penduduk dan bakal mengancam nyawa manusia . Sekali lagi, bakal korbannya adalah manusia itu sendiri.

Kalau begitu, apa dan mana yang lebih berharga – Keselamatan nyawa manusia atau hasil pembangunan tersebut ?

Ramah Lingkungan

Andai alam bisa berkomunikasi langsung, atau manusia mampu berbicara dengan bahasa alam, tentu akan ada kesepahaman antara manusia dengan alam. Sama seperti manusia, alam pun ingin diperlakukan secara ramah.

Aksi demonstrasi yang dilakukan banyak elemen masyarakat merupakan wujud dari pemberontakan atas perilaku yang kurang ramah mereka terima meski tidak semuanya murni sebagai wujud penuntutan keadilan.

Manusia saja tidak ingin dirinya diperlakukan dengan kasar apalagi ditindas. Begitu juga dengan alam. Bisa jadi bencana yang ditimbulkan akibat kerusakan alam sebagai wujud pemberontakan alam kepada manusia, sehingga dewasa ini kita sangat akrab dengan berbagai bentuk bencana alam. Dan korbannya adalah manusia sebagai pelaku perusakan alam yang ingin diperlakukan secara ramah.