Lingkungan – Minggu, 29 Jan 2012 07:14 WIB

Indonesia kini penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil-CPO) nomor satu di dunia. Sektor ini memberi kontribusi luar biasa bagi negara.

Jadi andalan sebagai penghasil devisa paling besar di luar minyak dan gas (Migas) serta penerimaan negara dari sisi pajak. Selain itu, menyerap banyak tenaga kerja dan pionir pembangunan wilayah.

Namun begitu, pihak-pihak tetentu di luar negeri masih mempermasalahkan kebun sawit di Indonesia dengan masalah lingkungan.

Kelanjutan bisnis kelapa sawit sangat bergantung pada lingkungannya. Oleh sebab itu, perusahaan bertanggungjawab melestarikan lingkungan melalui cara-cara produksi yang ramah lingkungan dalam keseluruhan proses produksi.

Tanggung jawab melestarikan lingkungan ini telah diterapkan perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, PT Astra Agro Lestari (AAL) Tbk.

Perusahaan bahkan mengkonversi areal-areal yang memiliki nilai konservasi tinggi untuk melestarikan lingkungan dan menjaga keseimbangan alam.

Ramah Lingkungan

Pembukaan lahan baru maupun areal replanting dilakukan dengan mengedepankan sikap ramah terhadap lingkungan melalui mekanisme, mencegah kebakaran lahan, serta manajemen pelestarian dan pemanfaatan air.

Pembibitan hingga penanaman pun dilakukan dengan menerapkan standar yang tinggi dalam pengelolaan lingkungan.

“Tanggung jawab melestarikan lingkungan ini diterapkan di seluruh anak perusahaan AAL, kata Direktur Area Andalas 1 PT AAL, Gunawan Lubis, di sela-sela meninjau PT Perkebunan Lembah Bhakti (PLB) di Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil, pekan lalu.

Gunawan menjelaskan, bahan baku minyak sawit adalah tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang harus dipanen dengan kriteria kematangan yang optimal serta harus diproses dalam waktu selambat-lambatnya 24 jam sejak dipanen untuk menghasilkan produk minyak sawit terbaik.

Pengolahan TBS menghasilkan produk utama berupa minyak sawit mentah (CPO), kernel atau minyak kernel. Pengolahan TBS juga menghasilkan produk sampingan berupa tandan kosong, serabut, cangkang, dan limbah cair yang semuanya dimanfaatkan kembali dalam proses produksi sebagai pupuk dan bahan bakar.

Pabrik kelapa sawit (PKS) menjadi lebih efisien serta lebih ramah lingkungan karena menggunakan produk sampingan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi penggerak mesin-mesin produksi, kata Gunawan.

Biomassa berupa limbah padat yaitu serabut dan cangkang kelapa sawit digunakan sebagai bahan bakar pada perebusan air (boiler) untuk penggerak turbin daya listrik kebutuhan pabrik dan sebagian perumahan karyawan.

Menurut Gunawan, di pabrik kelapa sawit bahan bakar solar hanya digunakan dalam jumlah sedikit untuk menggerakkan pembangkit listrik pada saat memulai proses pada pagi hari.

Teknologi di pabrik kelapa sawit ramah lingkungan. Selain mengatasi permasalahan limbah, pabrik juga dapat memenuhi kebutuhan energinya secara lebih murah serta ramah lingkungan dengan penggunaan kembali limbah padat sebagai bahan bakar yang terbarukan, kata Gunawan Lubis.

Pupuk Sawit

Limbah cair dan limbah padat dari pabrik dimanfaatkan untuk pupuk kelapa sawit. “Pabrik kita tidak menggunakan bahan kimia. Tak ada limbah yang mengalir ke sungai. Limbah cair kita manfaatkan untuk pupuk kebun,” kata Manajer Kebun PLB, Yuhibuddin.

Perusahaan, katanya, mengolah limbah cair dengan perlakuan fisik dan biologis. Perlakuan fisik berupa pemisahan kandungan minyak dengan kotoran berupa pasir dan lumpur.

Selanjutnya limbah mendapat perlakuan biologis dalam beberapa tahapan. Limbah cair yang telah diolah kemudian digunakan kembali seluruhnya sebagai pupuk cair di kebun kelapa sawit.

“Kadar limbah cair yang telah diolah dipastikan telah memenuhi baku mutu,” kata Yuhibuddin.

Tandan kosong dimanfaatkan sebagai mulsa dan pupuk organik bagi tanaman sawit.

Untuk pengendalian hama terpadu, perusahan memanfaatkan predator alami yakni burung hantu (tyto alba).

Burung hantu yang mampu menangkap tikus 3 ekor setiap malam itu masih terus dikembangkan di areal pengembangan dan areal peremajaan.

Di Perkebunan Lembah Bhakti yang memiliki area tanam kelapa sawit 5,9 ribu hektar terdapat 168 pasang tyto alba dengan 113 kandang, tersebar 188 blok di 9 afdeling. Satu kandang untuk 30 blok.

Usaha-usaha untuk mengembangkan musuh alami hama ulat api dan ulat kantong secara massal terus dilakukan, baik di laboratorium maupun di lapangan.

Kombinasi penanaman tanaman bermanfaat turnera subulata, leptopus dan celosia spp sebagai konservasi agen hayati serangga parasititoid dan predator hama pemakan daun kelapa sawit ditanam di areal perkebunan kelapa sawit, kata Kepala Kebun PLB, Edi Susanto.(Zulmaidi)