Tri Wahono | Senin, 12 Desember 2011 | 20:14 WIB

KOMPAS.com – Ketentuan musim atau sistem penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan pertanian selama ini menjadi pedoman para petani. Kini, ketentuan musim yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai pranatamangsa bergeser seiring dengan perubahan iklim yang terjadi di dunia.

Sistem pranatamangsa tidak hanya dikenal di Jawa. Sistem ini juga dikenal di daerah lain, seperti Bali, dengan nama kerta masa. Orang-orang di Jerman pun mengenal sistem penanggalan tersebut sebagai Bauernkalendar (penanggalan untuk petani).

Penelitian terbaru yang dilakukan Sri Yuliyanto, Kristoko Dwi, dan Bistok Hasiholan Simanjuntak dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, mendapatkan, sistem pranatamangsa yang selama ini menjadi acuan para petani dalam bercocok tanam telah bergeser. Setelah dibandingkan dengan kondisi iklim, pranatamangsa yang terdiri dari 12 musim (mangsa) itu telah bergeser selama 30-60 hari dalam 30 tahun terakhir.

Simanjuntak, pengajar Fakultas Pertanian UKSW, menjelaskan, jika biasanya musim tanam dimulai pada November-Desember, kini saat terbaik untuk mulai tanam adalah pada Desember-Januari, saat curah hujan berada pada puncaknya.

“Kalau masih menggunakan pola lama, bisa terlalu awal. Kemungkinan besar terjadi gagal panen. Karena itu, pola tanam sebaiknya diubah,” katanya.

Agrometeorologi

Penelitian dilakukan dengan menggabungkan agrometeorologi, pranatamangsa, dan citra satelit. Dengan melihat kontur geografis yang dipertemukan dengan data iklim, akan didapat beberapa data, seperti suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan di suatu daerah.

Variabel-variabel itu kemudian disajikan dalam perangkat lunak yang diberi nama Pranata Mangsa. Perangkat lunak itu menggunakan sistem learning vector quantization (LVQ) serta map alov untuk perencanaan pola tanam yang efektif.

Para peneliti menggunakan patokan pranatamangsa tahun 1969-1979 (oleh Daldjoeni) serta tahun 1979-1989 (oleh Sukardi) dan membandingkan dengan kondisi 10 tahun terakhir, yaitu tahun 2001-2010. Ternyata selain musim bergeser, kondisi curah hujan juga berkurang.

Yuliyanto menyebutkan, pada 30 tahun lalu puncak musim hujan berada pada mangsa keenam dengan curah hujan sebanyak 584 milimeter (mm), saat ini hanya 331 mm. Padahal, curah hujan yang paling baik untuk penanaman padi di atas 500 mm.

Sebetulnya pemerintah sudah memiliki penanggalan pertanian yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Namun, hal itu belum mengakomodasi wilayah yang lebih kecil. Kondisi setiap wilayah di tingkat kecamatan, bahkan kelurahan, bisa berbeda.

Perangkat lunak ini dapat menjawab kebutuhan itu. Setidaknya petani dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menanam suatu komoditas pertanian sesuai dengan cuaca yang terjadi. Dengan catatan, lahan pertanian yang menggunakan sistem ini adalah lahan tadah hujan, bukan lahan irigasi teknis yang pasokan airnya terjamin.

Setiap bulan, administrator yang merupakan para penyuluh pertanian memperbarui data iklim secara online. Dari data iklim itu, perangkat lunak akan menyesuaikan dengan kategori-kategori yang ada, di antaranya apakah di suatu daerah bisa dimulai penanaman padi, padi yang tak membutuhkan banyak air, palawija, atau untuk menyiapkan lahan.

Untuk mangsa keenam yang berlangsung pada 9 November hingga 22 Desember, misalnya, di Kabupaten Boyolali ada 11 kecamatan yang bisa menanam padi, tiga kecamatan di daerah kering bisa menanam palawija, sedangkan tiga kecamatan lain dapat mulai mengolah tanah untuk persiapan tanam.

Ke depan, Yuliyanto mengatakan, sistem itu akan lebih disempurnakan dengan mendetailkan jenis komoditas. Untuk padi, misalnya, akan ditambahkan jenis padi apa yang paling tepat, demikian juga palawija, sehingga hasil yang didapat petani benar-benar maksimal.

Saat ini hambatan terbesar adalah minimnya data masa lalu yang dimiliki instansi-instansi terkait. Data iklim, misalnya, hanya ada dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Kelemahan sistem ini adalah wilayah penggunaannya masih terbatas di satu wilayah yang sudah diset sejak awal sehingga tidak bisa digunakan di lokasi lain secara otomatis. Jika ingin digunakan di wilayah lain, peneliti harus mengubah data-data yang dimasukkan.

Selain itu, setelah memulai diseminasi di Kabupaten Boyolali, didapati bahwa penyelenggara jasa internet (internet service provider/ISP) yang digunakan Pemkab Boyolali tidak dapat mengakses data peta sehingga untuk mengaplikasikan sistem ini harus dipastikan server yang digunakan mengakomodasi hal tersebut.

30 persen

Simanjuntak menyatakan, jika petani masih berpatokan pada sistem penanggalan lama, produktivitas bisa turun hingga 30 persen. Hal itu juga berlaku untuk sawah beririgasi teknis walaupun pasokan air tak bergantung pada curah hujan. Sebab, sinar matahari juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Sistem ini juga mengantisipasi terjadinya perubahan cuaca yang tidak menentu, seperti yang terjadi pada 2010, saat hujan terjadi hampir sepanjang tahun. Harapan para peneliti, dengan perangkat lunak itu, petani bisa lebih mengantisipasi segala kemungkinan sehingga risiko kegagalan dapat dikurangi.