SELASA, 15 JUNI 2010 11:40

Bob Novandy. Ide membuat lampion dari bahan botol bekas memang tidak begitu saja muncul dalam benaknya. Pria setengah baya ini mendapat ide itu ketika suatu siang ia duduk di depan rumahnya dan melihat seorang anak membuang botol air mineral sembarangan. (foto: bentarabudaya)Bob Novandy. Ide membuat lampion dari bahan botol bekas memang tidak begitu saja muncul dalam benaknya. Pria setengah baya ini mendapat ide itu ketika suatu siang ia duduk di depan rumahnya dan melihat seorang anak membuang botol air mineral sembarangan. (foto: bentarabudaya)
(foto: detik.com)
(foto: detik.com) Bagi sebagian orang, barang-barang bekas yang sudah tidak bernilai dan teronggok sia-sia di tempat sampah bisa dijadikan ladang usaha yang menghasilkan uang, bahkan tak jarang uang yang didapat dari pemanfaatan barang bekas tersebut bernilai tinggi. Asalkan ada ide kreatif dan juga sedikit usaha.Siapa bilang barang bekas tidak bisa berubah menjadi barang yang memiliki nilai seni tinggi, lihat saja Bob Novandy, lewat tangan kreatifnya ia menyulap botol plastik bekas menjadi lampu-lampu cantik beraneka ragam bentuk.

Bob mengawali usahanya pada Agustus 2003. Ide awal muncul saat melihat sang anak minum dan langsung membuang botolnya. Bob lalu mengambil pisau dan mulai membentuk botol menjadi lampion. Sejak saat itu, ia termotivasi terus berkarya sambil mencipta lapangan kerja.

Hanya butuh sejam bagi Bob untuk menyelesaikan satu lampu cantik. Sampai saat ini, dia sudah menciptakan ratusan model lampu. Dia mengaku bekerja di rumahnya di Jalan Jeruk Manis No.59, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Harga lampion yang di jual Bob bervariasi tergantung ukuran serta detil hiasan. Bob mematok harga termurah Rp 35 ribu per unit. Sementara lampion ukuran besar yang dilengkapi ranting warna-warni, manik-manik, dan berkelap-kelip dijual hingga harga Rp 800 ribu per unit.

Rancangan lampu Bob memang unik-unik. Dia pernah menciptakan lampu kristal gantung dari pantat botol plastik minuman ringan. Sebanyak 287 botol, galon air mineral, dan kawat menjadi bahan dasarnya. Setelah selesai, lampu itu diberi lampu TL. Maka, pantat botol-botol plastik tersebut bersinar mirip pendaran kristal.

Botol-botol plastik bekas didapatkan Bob dari para pemulung. Hampir tiap hari ada saja pemulung yang mendatangi dirinya. ”Bisa botol air mineral besar atau yang gelasan,” katanya.

Bob memang dikenal nyentrik oleh tetangganya. Saat ditemui dia mengenakan kemeja bermotif bunga-bunga khas Bali. Beberapa kancingnya sudah dilepas. Tentu saja hal itu bukan karena tidak punya baju. Dia mengaku baju tersebut adalah baju kesayangannya. ”Saya merasa gampang mencari ide kalau pakai baju ini,” ujar mantan sekretaris pribadi Ketua Komisi I DPR itu.

Menurut dia, selain karena baju, inspirasi bisa datang sendiri. Ketika berhadapan dengan botol-botol plastik bekas, cat, gunting, atau lem, ide langsung muncul.

Tidak semua botol dipilih. Bob hanya mengambil yang masih mulus dan tidak penyok. Selain botol, beberapa pernik lain yang mendukung kreasinya adalah tempat oli, botol pembersih lantai, piala bekas, botol minuman dari beling, kayu atau vas bunga, hingga tutup obat pembasmi nyamuk.

Produk-produk daur ulang masih menjadi bisnis yang menggiurkan. Selain tidak perlu bermodal besar, bisnis ini hanya memerlukan kreativitas yang tinggi. Bob Novandy termasuk yang jeli melihat peluang ini.

Beberapa produk seperti lampions dengan berbagai macam ukuran, tirai-tirai rumah, miniatur kendaraan ia produksi sendiri dari tangannya yang sangat terampil. Ia mengaku, saat ini semua produksi lampions daur ulangnya diproduksi jika ada pesanan saja. Produksi lampionsnya setidaknya sudah menembus pasar Hongkong.

“Pasar yang saya incar seperti cafe, perumahan, lokasi kost dan lain-lain,” kata Bob.

Saat ini semua pesanan yang ia perolehnya umumnya masih dari mulut ke mulut, semua penjualan produknya tidak melalui gerai khusus. Bagi pemesan yang berminat umumnya langsung mendatangi rumahnya di Kebon Jeruk.

Bob mengatakan dalam sebulan ia mampu memproduksi lampions hingga 300 unit dengan omset Rp 20 juta, ini terjadi jika  Bob sedang mendapat orderan penuh dari para pemesan.

“Bisnis ini untungnya gede, tapi ngggak rutin ordernya, misalnya Coca Cola salah satu pelanggan saya, yang membeli untuk dikirim ke Hong Kong,” katanya.

Lulusan IISIP Jakarta tahun 1980 ini, mengakui untuk menghasilan produk-produk bernilai tinggi, ia hanya memerlukan bahan baku dari lapak-lapak pemulung. Harga bahan baku botol plastik bekas rata-rata Rp 4000 per kg atau sekitar 10 botol, yang bisa diolah menjadi satu produk lampions.

Bob yang mengklaim namanya dari kependekan  dari kata Bantu Orang Banyak (BOB) ini, tidak memerlukan modal besar untuk menjalankan bisnis ini. Hanya dengan bahan-bahan seperti pisau cutter, gunting dan cat, ia sudah bisa menjalankan bisnis ini.

“Sayangnya apresiasi masyarakat terhadap barang daur ulang masih menganggap remeh, mereka masih melihat bahan, bukan pada proses,” katanya.

Kemampuan mengolah sampah ini ia juga turunkan kepada anak-anak sekolah dasar, Bob sempat mengajar di beberapa sekolah dasar di wilalayah Jakarta Barat. Pria yang suka mengutak-atik kata ini punya pandangan sendiri terkait makna kata Lampions yaitu berasal dari kepanjangan kata Langkah Alternatif Mengatasi Pengangguran Ikhlas Optimis Niat Sejahtera

Tahun 2006 lalu Bob mendapat proyek pesanan dari Taman Safari sebanyak 280 unit lampion dan 86 lampion lainnya untuk hotel yang berfungsi sebagai hiasan. “Waktu itu masih murah, dari 366 buah lampion harganya cuma Rp 6 juta. Saya ambil untung Rp 20.000 untuk setiap lampion,” katanya.

Bob sering mendapat pesanan dari berbagai cafe dan restoran di Jakarta, bahkan tak jarang ia pun mendapat pesanan dari perusahaan-perusahaan besar. “Kalau pesanan banyak seperti itu saya bisa dapat omzet hingga Rp 11 juta dalam sebulan,” kata Bob.

Ia mampu mengerjakan sekitar 350 buah lampion setiap bulannya, harganya bervariasi tergantung dari tingkat kesulitan pembuatan lampion dan ukuran lampion. Kisaran harga yang ia tetapkan berkisar Rp 35.000 sampai Rp 800.000. Lampionnya diberi lampu dan kaki untuk dudukan lampion. “Jika dilihat sekilas pada malam hari ketika lampu dalam lampion dinyalakan, orang sering mengira lampion ini berasal dari bahan kristal,” katanya.

Menghasilkan prakarya seperti ini memang membutuhkan keterampilan tersendiri. Namun peralatannya begitu sederhana, hanya bahan utama berupa botol plastik bekas, lampu, kabel, alat pemotong dan piloks. Cara pembuatannya setelah botol dibersihkan, buat garis samar untuk jalur pemotongan baru dipotong sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah itu warnai dengan piloks dan pasang lampu serta kabel. lalu langkah terakhir membentuk lampion dari irisan-irisan yang telah dibuat. “Dalam sehari saya bisa membuat sekitar 15 buah lampion,” ujarnya. (fn/tn/dt/knt)www.suaramedia.com

About these ads